Released by: Interscope

Selamat kepada Lana Del Rey. Bukan saja karena akhirnya merilis album studio keenamnya ini, “Norman F*****g Rockwell!”, namun juga karena sudah memberikan kita salah satu album terbaik di tahun 2019 ini.

Semenjak “Lust for Life” (2017), para fans Lana dan juga penikmat musik secara umum, sudah menanti-nanti apa lagi yang akan ditawarkan oleh sang Ratu Alt-Pop ini, mengingat setiap albumnya, meski khas dan berkarakteristik tertentu, selalu merupakan sebuah paket musikal yang beramunisi materi kelas A.

Dan “Norman F*****g Rockwell!” Lana menyajikan pendekatan yang agak berbeda, namun tidak benar-benar bergerak jauh dari akar musikalitasnya yang atmosferik, kaya ambient dan terkadang ethereal. Namun kini ia memberi ruang yang cukup luas untuk sisi retro psikadelik rock. Mungkin hadirnya Jack Antonoff (yang baru saja juga membantu Taylor Swift di album “Lover”) memberi kontribusi pada perubahan gaya ini.

Dalam sebuah sesi wawancara terbaru, Lana menyebutkan Jack-lah yang datang kepadanya dan menawarkan bantuan untuk album berikutnya. Rupanya Lana merasa cocok dengan Jack, sehingga kemudian hadir dengan nyaris mendominasi dalam “Norman F*****g Rockwell!” (album juga mencatat antara lain Andrew Watt, Happy Perez dan kolaborator setia Lana, Rick Nowels, sebagai produser).

Pengaruh musikalitas Jack, baik untuk band-band di mana ia bergabung (seperti Bleacher dan Fun), maupun untuk karya artis di mana ia membantu (seperti Lorde, Taylor dan kini Lana) memang terdengar kuat melekat, tanpa harus merusak estetika musisi yang didukungnya.

Seharusnya memang tidak usah heran lagi jika psikadelik-rock yang disajikan Lana dalam “Norman F*****g Rockwell!” ternyata pas juga dengan alt-pop/sad core/trip hop usungannya. Memang “Norman F*****g Rockwell!” cenderung meminggirkan sound electronic Lana dan memilih instrumentasi yang lebih organis, namun tetap pas menjadi kesenduan atau melankolisme mengawang yang disajikan Lana.

Coba saja simak ‘Venice Bitch’, sebuah balada epik berdurasi 9 menitan yang mengizinkan permainan psikadelik mendominasi, terutama di instrumentasi jelang akhir. Seperti sebuah mimpi lucid yang mengawang dan melenakan. Tapi tawaran “mimpi” ini merata dalam album, karena setiap track begitu kuat dalam membius pendengaran, dengan gaya dan arketipe mereka masing-masing.

Senang juga bagaimana Lana membungkus “Norman F*****g Rockwell!” melalui materi yang menjadi satu kesatuan sebagai narasi utuh, ketimbang sekedar mandiri dan dapat terdengar terpisah (namun renggang satu sma lain). Bukan berarti setiap track “Norman F*****g Rockwell!” tidak bisa berdiri sendiri. Sangat bisa. Hanya saja ada jaringan yang mengikat antara satu lagu dengan lagu lainnya.

Sebagai lagu mandiri, “Norman F*****g Rockwell!” mempersembahkan banyak lagu yang bisa dikatakan sebagai yang terbaik untuk tahun ini. Contohlah ‘F*ck It I Love You’ dan ‘The Greatest’ yang dikemas sebagai double single. Sebagaimana ‘F*ck It I Love You!’, maka ‘The Greatest’ pun mengadopsi konsep retro rock, yang ternyata memang pas dengan vokal Lana yang atmosferik. Jadi, meski tidak lagi mengedepankan alt-pop electronic yang kaya ambient, namun ciri khas nyanyian Lana tetap lekat terdengar.

Lana juga akan membuai, tidak hanya kuping, namun juga hati melalui balada “gelap” seperti “Love Song” yang mengharu biru atau ‘Happiness Is a Butterfly” yang melantun lembut. Dan kesemuanya dibungkus dengan imbuhan psy-rock yang tebal.

Indikasi ini sudah ditunjukkan sebenarnya semenjak Lana merilis ‘Mariners Apartment Complex’ sebagai pembuka jalannya album. Alih-alih electronic sebagai latar, sebagaimana yang kerap diusung Lana, ia memilih aransemen musik olahan band yang lebih organis. Notasi lagu sendiri tampak meminjam folk sebagai corak, yang dipadukan dengan vokal Lana, malah membuat lagu terdengar psikadelik.

Sebagaimana umumnya album-album Lana sebelumnya, setiap track mungkin senada satu sama lain, namun tetap saja terdengar berbeda. Mungkin inilah kekuatan Lana yang membuat ia bisa menonjol sebagai salah satu musisi terkemuka masa kini.

Tanpa berpanjang-panjang lagi, mendengarkan “Norman F*****g Rockwell!” itu seperti melakukan perjalanan astral yang menembus ruang dan waktu. Memang terdengar berlebihan, tapi coba saja selami, maka dijamin akan mendapatkan sajian yang bebas generik. Setiap lagu ditulis dengan elegan, tapi tidak berjarak. Materinya kompleks, namun juga gampang dicerna.

Sebuah kontemplasi atau sebuah meditasi. Atau apapun itu. Karena satu yang pasti, dengan “Norman F*****g Rockwell!” Lana Del Rey menegaskan jika jalan alternatif miliknya adalah sebuah makanan untuk jiwa, tanpa harus berkelit dalam notasi penuh kerumitan. Nikmati dan rasakan.

Seperti yang ditegaskannya di penghujung album, “Hope Is a Dangerous Thing for a Woman Like Me to Have – but I Have It.” Maka yakinlah kalau ia memang memilikinya.

Official Website

TRACKLIST

1. “Norman Fucking Rockwell” 4:08
2. “Mariners Apartment Complex” 4:06
3. “Venice Bitch” 9:38
4. “F*ck It I Love You” 3:38
5. “Doin’ Time” 3:17
6. “Love Song” 3:49
7. “Cinnamon Girl” 5:00
8. “How to Disappear” 3:48
9. “California” 5:05
10. “The Next Best American Record” 5:49
11. “The Greatest” 5:00
12. “Bartender” 4:23
13. “Happiness Is a Butterfly” 4:32
14. “Hope Is a Dangerous Thing for a Woman Like Me to Have – but I Have It” 5:24